10 September 2012

WILL Sebuah Film Wajib Buat Liverpudlian




Tahun 2011 ini dipastikan akan menjadi tahun membahagiakan untuk semua fans Liverpool di seluruh dunia. Kenapa? Strangelove Films dan Galata film akan merilis film yang bernuansa perjuangan seorang anak yatim piatu untuk meraih mimpinya demi menonton sebuah pertandingan akbar di Final Liga Champions antara Liverpool melawan AC Milan. Film yang diberi judul " Will " ini ditujukkan untuk semua para penggemar Liverpool yang mempunyai cita-cita sama dengan Will. Film yang akan sarat makna ini diyakinin mampu menyampaikan arti " You'll Never Walk Alone ". Film ini menceritakan bocah yang berumur sebelas tahun bernama Will Brennan (Eggelton) merupakan fans Liverpool Liverpool dan penggemar sepak bola.

Di sekolah, Kecintaan Will dan pengetahuan tentang olahraga semua yang menopang dia. Lalu entah dari mana muncul ayah Will yang telah lama mengholang, Gareth (Lewis), dan dengan dua tiket untuk pertandingan terbesar yaitu tiket Final Liga Champions di Istanbul. Tapi sebelum dua bisa memulai perjalanan mereka, ayah Will, Gareth tiba-tiba meninggal dunia. Bertekad untuk melakukan perjalanan demi kehormatan di antara teman-temannya dan mimpi ayahnya, Will melarikan diri dari asrama sekolahnya. Dalam perjalanan, ia bertemu Alek (Kristian Kiehling), mantan bintang sepakbola Yugoslavia yang meninggalkan dunia sepakbola sejak perang saudara negaranya. Meski awalnya enggan untuk membantu, Alek akhirnya terinspirasi oleh perjalanan heroik Will dan membantu Will untuk meraih impiannya.

Disutradarai oleh Ellen Perry dan menampilkan bintang macam Damian Lewis (Gareth) Perry Eggleston (Will) Bob Hoskins (Davey), film ini dipredisikan akan meraih jutaan perhatian penonton di seluruh dunia. Dalam film Will ini, menampilkan juga cameo dari pemain Liverpool Steven Gerrard dan Jamie Carragher plus Kenny Dalglish. Film ini mengambil settingan di kota Turki Balat, yang berisi adegan Stadion Olimpiade Ataturk dan pemandangan Paris.


WILL DIRILIS 21 OKTOBER 2011 DI UK

' Will, You'll Never Walk Alone ' telah tayang di bioskop-bioskop seluruh Inggris pada 21 Oktober 2011 lalu, seperti yang dikutip dari situs film imbd.com. Film ini menceritakan sebuah perjuangan bocah yatim piatu yang berumur sebelas tahun bernama Will Brennan (Eggelton) dan merupakan pendukung Liverpool yang berusaha mewujudkan cita-cita dirinya dan ayahnya yang telah meninggal untuk bisa menyaksikan laga final Liga Champions 2005 di Istanbul, Turki. Film yang dibintangi oleh Damian Lewis (Gareth) Perry Eggleston (Will) Bob Hoskins (Davey) Mungkin telah meraih jutaan perhatian penonton di seluruh dunia khususnya para Liverpudlian. Diproduksi oleh Strangelove Films dan Galata, film ini sempat tertunda penayangannya karena masalah pendistribusian film. Namun setelah berganti perusahaan distribusi film, Will akhirnya dirilis 21 Oktober 2011 lalu.

Yang membuat menarik film ini selain ceritanya yang menggambarkan sebuah kisah perjuangan anak yang meraih cita-citanya, dalam film Will ini juga menampilkan juga cameo dari pemain Liverpool Steven Gerrard dan Jamie Carragher plus manajer Liverpool sekarang, Kenny Dalglish. Film ini mengambil settingan di kota Turki Balat, yang berisi adegan Stadion Olimpiade Ataturk dan pemandangan kota Paris. Will sendiri menjadi film ke 4 yang pernah melibatkan Stevie G di dalamnya. Sebelumnya ada Goal, Goal 3, 15 Minutes that shook the world yang menampilkan sosok kapten Liverpool ini sebagai cameo. Dalam sebuah wawancara Stevie G mengungkapkan bahwa film ini dapat menanamkan jiwa pantang menyerah kepada anak-anak. " Film ini memberikan pesan kepada anak-anak bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama anda tetap berusaha " ujar kapten Liverpool ini. Yang pasti semua fans Liverpool di seluruh dunia mungkin sudah pernah menyaksikan film yang bernuansa haru ini.


Sinopsis WILL

Will Brennan, 11 tahun fans massive Liverpool. Suatu hari ayahnya yang telah menitipkannya selama 3 tahun setelah kematian Ibunya di Asrama sekolah mengunjunginya kembali dan berencana membawa Will tinggal bersamanya di Liverpool. Selain kejutan untuk membawanya pulang, ayahnya memiliki kejutan lain untuk Will, yakni tiket Final Liga Champion di Istanbul. Will yakin betul Liverpool yang akan maju dalam final Liga champion, will dan ayahnya bertaruh untuk laga semifinal melawan Chelsea. Namun, beberapa waktu kemudian WIll mendapat kabar bahwa ayahnya tertidur dan tidak bangun lagi. Will sangat syok dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Barang peninggalan ayahnya diberikan kpd will termasuk tiket final liga champion yang dimenangi Liverpool *Will memenangkan taruhannya*.

Suster asrama sekolah will tidak memperbolehkannya untuk hadir dalam laga di Istanbul dikarenakan tidak ada yang bisa menemaninya. Teman-teman Will membantu will untuk mewujudkan impiannya, Ia dengan modal tiket dan uang hasil taruhannya, menumpang truk sayuran menuju Paris untuk menuju Istanbul, Turki. Ia bertemu Alec, yang mengantarkannya hingga Notredame, Perancis. Namun nasib sial menimpa Will disana. Dompet ayahnya yang berisi semua uangnya di curi anak remaja nakal disana. Will yang telah putus asa akhirnya di bantu oleh seoarang tukang payung berkulit hitam dan mengantarkannya kembali pada Alec. Will menceritakan semua pada Alec, Alec yang iba akhirnya membantu will, namun kenyataan harus diterima Will karena Ayahnya ditipu, tiket yang dimilikinya adalah tiket palsu.

Yang kesekian kali Will putus asa, dan kali ini will benar-benar ingin kembali ke asramanya. Alec telah menghubungi pihak sekolah dan berencana mengantar Will kembali. Namun, sahabat Alec, Mathuieu tanpa diduga memberikan seluruh tabungannya kepada Alec untuk membawa Will dan Alec menuju final liga champion. Semangat Will kembali muncul, namun disisi lain pihak sekolah will telah menyebarkan informasi hilangnya Will dan menganggap Alec telah membawanya pergi. Suatu ketika dalam perjalanannya ke Turki, Alec dan Will bertemu rombongan Liverpudlian lainnya seketika mereka saling akrab satu sama lain, dan disaat itu pula ada razia kepolisian untuk pencarian Will Brennan. Dengan solidaritas para Liverpudlian, Will lolos dalam razia tersebut.

Alec kemudian mengajak Will mampir di kampung halamannya Bosnia, disana semua fakta terkuak tentang Alec. Alec ternyata adalah seorang pemain bola timnas Bosnia Alec Zukic, namun akibat suatu hal yang menyebabkan salah satu putra kerabatnya meninggal dengan sepak bola, Alec trauma dan tidak melanjutkan karir sepak bolanya dan beralih menjadi supir truk di Paris, dimana pada waktu yang sama Alec juga menerima tawaran bermain untuk Liverpool. *waaaaaw*. Will dan Alec kembali dalam perjalanannya menuju Istanbul. Seketikanya disana, segera Alec mencari calo tiket, namun setelah tawar menawar ternyata uang yang Alec miliki tidak cukup untuk membeli satu tiket pun, tapi tidak disangka ia bertemu teman-teman liverpludian yang sebelumnya bertemu pada perjalanan. Segera ia mendapatkan bantuan dana dalam membeli satu tiket, ya hanya satu tiket yang dimiliki oleh penjual.

Will tidak mau masuk apabila tidak dengan Alec. Diluar pintu masuk ada seseorang yang memanggil WIll. Ia adalah "king kenny" Kenny Dalglish yang ternyata telah mengenal Will dari ayahnya *ternyata ayahnya tidak bohong dengan cerita2 yang di berikan pada WIll* dan semakin membuat liverpool mengenal Will atas berita2 yang muncul atas kehilangannya selama ini. Will akhirnya berhasil masuk stadium dan bertemu para pemain2, Jamie Carragher, bahkan Steven Gerrard. Ia disambut baik. Semua stasiun televisi menayangkannya, Suster asrama sekolah, teman temannya, Mathieu dan tukang payung, sahabat ayahnya dan semuanya terharu dengan tayangan di Televisi yang sedang mereka Tonton.. Will Berhasill! Berharap Ayah dan Ibu disurga melihat.. Will Berhasil!!!

Walk on Through the wind, Walk on through the rain, 
Though your dreams be tossed and blown..
Walk on, walk on with hope in your heart..
And you'll never walk aloneee.. you'll never walk alonee..
 #YNWA


 

Cast
Damian Lewis ... Gareth
Bob Hoskins ... Davey
Alice Krige ... Sister Carmel
Jane March ... Sister Noell
Rebekah Staton ... Nancy
Branko Tomovic ... Avdo Bilic
Neil Fitzmaurice ... Fitzy
Mark Dymond ... Detective
Giles Alderson ... TV Reporter
Malcolm Storry ... Finch
Canan Erguder ... Mina Bilic
Steven Gerrard ... Himself
Kristian Kiehling ... Alek
Charlotte Asprey ... Julia DuBois
Shaun Lucas ... Pall Bearer


Nah buat kalian para Liverpudlian yang penasaran bagaimana dengan film ini, atau mungkin juga sudah melihat namun ingin melihat kembali. Film ini sudah aku unggah dan bisa dilihat langsung dengan mengklik WILL (You'll Never Walk Alone) 2011 yang sudah aku tambahkan dengan subtitle Bahasa Indonesia yang telah di translete oleh Admin Big Reds Tangerang. Selamat menonton...!!!
Yo'll Never Walk Alone
»»  lanjut bacanya....

09 September 2012

TROPHY LIVERPOOL

League

Winners (18) : 

1900–01, 1905–06, 1921–22, 1922–23, 1946–47, 1963–64, 1965–66, 1972–73, 1975–76, 1976–77, 1978–79, 1979–80, 1981–82, 1982–83, 1983–84, 1985–86, 1987–88, 1989–90

Runners-up (11) : 
1898–89, 1909–10, 1968–69, 1973–74, 1974–75, 1977–78, 1984–85, 1986–87, 1988–89, 1990–91, 2001–02,2008-09
FA CUP

Winners (7): 

1965, 1974, 1986, 1989, 1992, 2001, 2006

Runners-up (6): 
1914, 1950, 1971, 1977, 1988, 1996




Carling Cup

Winners (8, record): 

1981, 1982, 1983, 1984, 1995, 2001, 2003, 2012

Runners-up (3): 
1978, 1987, 2005


Community Shield
Winners (15): 
1964 (shared), 1965 (shared), 1966, 1974, 1976, 1977 (shared), 1979, 1980, 1982, 1986 (shared), 1988, 1989, 1990 (shared), 2001, 2006 (10 outright, 5 shared)

Runners-up (6):
1922, 1971, 1983, 1984, 1992, 2002

UEFA Champions League

Winners (5, English record): 
1977, 1978, 1981, 1984, 2005



Runners-up (2): 

1985, 2007
UEFA Europe League

Winners (3, joint-record): 
1973, 1976, 2001
UEFA Super Cup


Winners (3): 

1977, 2001, 2005



Runners-up (2): 

1978, 1984



»»  lanjut bacanya....

Sejarah Berdirinya Liverpool Dari Masa Ke Masa

Sangat menarik mencermati awal berdirinya klub kesayangan kita ini. Di ingkari atau tidak, berdirinya Liverpool FC di karenakan adanya keretakan di tubuh manajemen Everton FC, John Houlding pada saat itu merasa "memiliki" Everton FC acap kali membuat peraturan yang nyeleneh seperti menaikan suku bunga pinjaman terhadap klub, memaksakan setiap pemain Everton untuk menggunakan "the sandon" (mungkin semacam cafe) miliknya sebelum dan sesudah pertandingan. Yang paling fatal adalah ketika Houlding mengajukan proposal untuk mendirikan perseroan dan membeli Anfield, proposal ini akhirnya di tolak mentah-mentah oleh para pengurus Eveton yang lainnya dan akhirnya Everton pun angkat kaki dari anfield. Kejadian inilah awal dari terbentuknya Liverpool FC, ditolak oleh pengurus lain bukannya membuat John Houlding menyerah, justru timbullah otak bisnisnya, dalam benaknya mungkin terpikir bahwa jika modal sudah ada kemudian lapangan pun tersedia, mengapa tidak sekalian saja di bentuk klub sepakbola baru. dengan di bantu temannya John McKenna (kelak menjadi manager pertama LFC) Houlding membentuk klub baru. Didirikan pada 1892 akibat perseteruan antara Komite Everton FC dengan John Holding sebagai Presiden Club yang juga pemilik stadion Anfield. Akibat dari perseteruan itu, Everton akhirnya pindah ke stadion Goodison Park dan John Holding menjadikan stadion Anfield sebagai kandang Liverpool FC sampai sekarang. Klub sempat diberi nama Everton FC and Athletic Grounds, Ltd., atau diringkas Everton Athletic, namun FA menolak mengakui ada dua tim bernama Everton. dan akhirnya pada tanggal 3 Juni 1892 perubahan nama resmi di umumkan melalui sertifikat, nama sebelumnya diubah menjadi "Liverpool FC and athletic Grounds Company Limited". Akhirnya pada akhir bulan Juni 1892 John Houlding pun akhirnya memilih nama Liverpool FC. Liverpool menjelma kekuatan serius di kompetisi sepakbola Inggris.



Inilah squad pertama Liverpool FC ketika pertama kali di bentuk di tahun 1892, dengan kapten pertama kali yaitu Adrew Hannah, yang ironis adalah seluruh pemain LFC pada saat itu berasal dari luar inggris dengan sebagian besar berasal dari Scotland. Pada musim pertamanya, Liverpool FC berhasil menjuarai Lancashire League sebelum akhirnya bergabung dengan Divisi II Liga Inggris pada musim 1893/94. Pada musim pertamanya di Divisi II Liga Inggris, Liverpool FC langsung menjadi juara dan berhak untuk promosi ke Divisi I Liga Inggris ( sekarang Premiere League ). Tak butuh lama bagi Liverpool untuk mencicipi gelar di liga, karena pada musim pertamanya di Divisi I ini (musim 1900/01), Liverpool sukses menjuarai Divisi Satu dan mengulanginya lagi lima tahun kemudian. Liverpool FC sukses meraih juara liga 2 musim berturut-turut yaitu musim 1921/22 dan 1922/23, namun tidak mendapatkan tropi lagi sampai musim 1946/47 ketika berhasil meraih gelar liganya yang ke 5. Final Piala FA pertama dilakukan pada 1914, meskipun akhirnya mereka dikalahkan Burnley 1-0. Setelah mengarungi Divisi I selama lebih dari 50 tahun, akhirnya Liverpool FC mengalami kemerosotan dan terdegradasi ke Divisi II pada musim 1953/54. Liverpool sempat terseok-seok sebelum akhirnya Bill Shankly datang sebagai manajer pada bulan Desember 1959. 


Shankly merombak tim secara besar-besaran dengan melepas 24 pemain lama dan menggunakan sebuah ruangan di stadion Anfield untuk menggelar rapat kepelatihan. Ruangan ini di namakan 'The Boot Room' yang berhasil melahirkan manajer-manajer legendaris Liverpool di kemudian hari. Di ruangan inilah Bill Shankly dan anggota 'Boot Room' lainnya seperti Bob Paisley, Joe Fagan dan Reuben Bennett mulai membangun kekuatan Liverpool FC yang membuat iri tim musuh. Hasil dari renovasi yang dilakukan oleh Bill Shankly mulai membuahkan hasil ketika berhasil promosi ke Divisi I pada musim 1961/62 dan menjadi juara liga pada musim 1963/64. Setelah menjuarai Piala FA yang pertama pada tahun 1965 dan menjuarai Liga pada musim 1965/66, Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar juara Liga dan piala UEFA pada musim kompetisi 1972/73. Musim berikutnya Bill Shankly berhasil mempersembahkan gelar piala FA setelah membantai Newcastle United 3-0. Tidak ada yang menyangka bahwa gelar piala FA itu merupakan persembahan terakhir dari seorang Bill Shankly. Karena secara tiba-tiba Bill Shankly memutuskan untuk pensiun. Pemain dan Liverpudlian ( julukan untuk penggemar fanatik Liverpool FC ) berusaha untuk membujuk, bahkan para pekerja di Liverpool mengancam akan melakukan mogok kerja. Tetapi Bill Shankly tetap pada pendiriannya dan menyerahkan tongkat manajerial kepada asisten-nya yaitu Bob Paisley. 

Bill Shankly akhirnya pensiun pada tahun 1974 dan bergabung dengan Liverpudlian di tribun The Kop. Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool FC dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool FC. Selama 9 tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, beliau memberikan total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champion, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut. Dengan semua gelar itu tidak salah bila Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para bintang muda seperti: Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush. Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuat muda yang sangat hebat dan berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat siapapun penerusnya. Sebagai penerus Bob Paisley yang pensiun di tahun 1983, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, berhasil mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga, juara Piala Liga dan juara Piala Champion. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepakbola Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi. Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool FC dan Juventus ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun. Selain itu, 14 Liverpudlian didakwa bersalah atas peristiwa yang dikenal dengan Tragedi Heysel.

Setelah peristiwa mengerikan itu, Joe Fagan memutuskan untuk pensiun dan memberikan tongkat manajerial selanjutnya kepada Kenny Dalglish yang ditunjuk sebagai player-manager. Joe Fagan menyerahkan tugas manajerial Liverpool FC kepada Kenny Dalglish yang pada saat itu sudah menjadi pemain hebat tetapi masih harus membuktikan kapabilitas sebagai seorang manajer. Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985/86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu. Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forrest tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun. Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepakbola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri. Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. 

Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 beliau mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepakbola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer. Perginya 'King' Kenny Dalglish dan 2 tragedi yang mengerikan ( Heysel dan Hillsborough ) sepertinya memberikan trauma, hukuman atau kutukan yang mendalam bagi Liverpool Football Club. Kedatangan Graeme Souness pun tidak mengubah peruntungan Liverpool FC. Walaupun Souness bisa memberikan gelar Piala FA pada tahun 1992, tetapi dengan kebijakan transfer pemain yang kurang baik dan penerapan strategi yang sedikit membingungkan menjadikan Liverpool tampil tidak konsisten pada musim itu. Hal lain yang memperburuk hubungan Souness dan Liverpudlian adalah ketika Souness menceritakan proses pemulihan kesehatannya pasca operasi jantung kepada koran The Sun. Seperti diketahui bahwa masyarakat di Merseyside memboikot koran The Sun yang sering memojokkan Liverpudlian mengenai tragedi Hillsborough. Pada 28 Januari 1994 Graeme Souness akhirnya mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool FC setelah tersingkir dari Piala Liga dan Piala FA. Pelatih Roy Evans ditunjuk sebagai manajer Liverpool FC selanjutnya. Liverpool FC berada di urutan ke 8 klasemen hasil terburuk selama 29 tahun terakhir. 

Walaupun secara raihan gelar juara Graeme Souness tidak sukses, tetapi pada masa kepemimpinannya banyak lahir talenta muda diantaranya : Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, Rob Jones dan David James. Manajer Liverpool selanjutnya adalah pelatih senior Roy Evans yang sudah bersama Liverpool FC selama lebih dari 30 tahun. Pada musim 1994/95 Liverpool menduduki peringkat 5 Liga Primer Inggris dan berhasil menjuarai Piala Liga dengan mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-1. Roy Evans berhasil mengembalikan ciri khas permainan Liverpool yaitu 'pass and move'. Tetapi permainan apik dan indah Liverpool FC pada masa ini tidak diimbangi determinasi dan agresifitas yang memadai dari para pemainnya, sehingga Liverpool pada masa Roy Evans sering disebut 'Spice Boys'. Selain semakin matangnya pemain seperti : Robbie Fowler, Steve McManaman dan Jamie Redknapp, pada masa kepelatihan Roy Evans muncul bakat muda bernama Michael Owen yang berhasil mencetak 18 gol dan menjadi PFA Young Player of the Year Award pada tahun 1998. Pada musim kompetisi 1998/99 Liverpool FC menarik pelatih asal Prancis Gerard Houllier untuk berpartner dengan Roy Evans sebagai 'joint manager'. Tetapi Roy Evans merasa tidak cocok bekerjasama dengan Gerard Houllier, sehingga mengundurkan diri pada bulan November 1998.  Setelah menjadi manajer tunggal, Houllier merombak total tim dengan memasukan pemain seperti : Sami Hyypia, Stephan Henchoz, Markus Babbel, Dietmar Hamann, Gary McAllister dan Emile Heskey. Selain muncul bintang muda Michael Owen, Houllier juga berhasil mempromosikan bakat muda dengan talenta luar biasa bernama Steven Gerrard. Tahun 2001 menjadi tahun terbaik Liverpool FC setelah mengalami kemerosotan prestasi di tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga, Piala FA, Piala UEFA, Piala Charity Shield dan Piala Super UEFA. Keberhasilan ini memunculkan secercah harapan bagi Liverpool untuk dapat meraih gelar juara Liga Inggris yang terakhir diraih pada tahun 1990. 

Pada tahun 2003 Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga dan menduduki peringkat ke 4 pada musim 1993/94 sehingga berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions. Walaupun berhasil memberikan sejumlah gelar buat Liverpool FC, tetapi taktik bertahan yang diterapkan Gerard Houllier dianggap tidak bisa bersaing untuk meraih gelar Liga Inggris. Taktik bertahan dan mengandalkan serangan balik sangat mudah diantisipasi oleh lawan, sehingga pada 24 Mei 2004 Gerard Houllier digantikan oleh Rafael Benitez. Rafael Benitez datang ke Liverpool FC setelah berhasil membawa Valencia menjadi juara Liga Spanyol 2 kali dan juara Piala UEFA. Harapan Liverpudlian untuk menjadi juara Liga Inggris kembali membumbung tinggi setelah Benitez berhasil membawa Liverpool FC menjuarai Liga Champions untuk yang ke 5 kalinya. Pada final yang dikenang sebagai partai terhebat sepanjang masa, Liverpool FC berhasil mengalahkan AC Milan setelah tertinggal 0-3 di babak pertama. Tetapi gol dari kapten Steven Gerrard, Vladimir Smicer dan penalti Xabi Alonso berhasil membawa Liverpool FC ke babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Kiper Liverpool FC Jerzy Dudek menjadi pahlawan setelah berhasil menahan tendangan penalti Shevchenko. Kemenangan pada partai final Liga Champions inilah yang menjadi alasan kapten dan legenda hidup Liverpool FC Steven Gerrard untuk tidak pindah ke klub lain. Keputusan yang disambut gembira oleh para Liverpudlian. Liverpool FC kemudian dibawa Rafael Benitez untuk menjadi juara Piala Super Eropa dengan mengalahkan juara Piala UEFA CSKA Moskow dengan skor 3-1. Piala FA tahun 2006 menjadi piala terakhir yang dipersembahkan oleh Rafael Benitez untuk Liverpool FC. Dalam perjalanan menuju final piala FA, Liverpool FC mengalahkan Luton Town dengan skor 5-3, MU 1-0, Birmingham City 7-0 dan mengalahkan Chelsea 2-1 di semi-final. Di partai final Liverpool FC berhasil mengalahkan West Ham United dengan Steven Gerrard sebagai Man Of The Match. Steven Gerrard memberi umpan untuk gol pertama, melakukan tendangan voli untuk gol ke 2 dan melakukan tendangan jarak jauh yang fenomenal pada menit ke 91. Dengan skor 3-3 akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Walaupun selama pertandingan kiper Pepe Reina beberapa kali melakukan kesalahan fatal, tetapi pada saat adu penalti berhasil menahan 3 dari 4 tendangan pemain West Ham United. Final Piala FA ini disebut sebagai 'Final-nya Gerrard' dan dicatat sebagai partai final terbaik di era modern Piala FA. Setelah memenangi Piala Community Shield tahun 2006 dan berhasil mencapai final Liga Champions 2007, musim-musim berikutnya menjadi musim tanpa gelar bagi Rafael Benitez dan Liverpool FC. 

Satu-satunya kabar yang menggembirakan bagi Liverpudlian adalah kembalinya 'King' Kenny Dalglish untuk membidani Liverpool FC Youth Academy pada tahun 2009. Akhirnya Rafael Benitez berhaenti pada tanggal 3 Juni 2010 dan digantikan oleh Roy Hodgson. Pada masa kepemimpinan Rafael Benitez, Liverpool FC mengalami 2 kali peralihan kepemilikan klub. Yang pertama pada tahun 2007 ketika dibeli oleh George Gillett and Tom Hicks dan pada tahun 2010 ketika Liverpool FC di ambil alih New England Sports Ventures milik John W. Henry...

You'll Never Walk Alone
»»  lanjut bacanya....

30 Fakta Dari Sang Captain Steven "Fantastic" Gerrard


Langsung aja kawan tidak usah panjang lebar, berikut ini 30 fakta dari sang captain kita

  1. Steven George Gerrard Lahir di Whiston pada tanggal 30 Mei 1980, ia mulai bermain dengan tim lokal, Whiston Juniors dan sudah dipantau oleh pemandu bakat Liverpool di usia delapan tahun.
  2. Dia bergabung dengan tim Liverpool muda pada tahun 1988 dan pada tanggal 5 November Tahun 1997 ia menandatangani kontrak pertamanya sebagai pemain profesional dengan klub.
  3. Cedera Veggard Heggem membuat dia melakukan debutnya sebagai pemain pengganti pada 29 November 1998 melawan Blackburn. Lihat video debut Gerrard untuk Liverpool FC
  4. Dia melakukan debutnya di kompetisi eropa di Piala UEFA melawan Celta Vigo, menggantikan Jamie Redknapp.
  5. Dia mencetak gol pertamanya untuk tim senior pada 5 Desember 1999 pada kemenangan 4-1atas Sheffield Wednesday. Lihat video gol pertama Gerrard untuk Liverpool
  6. Pada bulan April 2001 dia mendapatkan gelar PFA Young Player of the Year.
  7. Gerrard menggantikan Hyppia sebagai Kapten Liverpool pada 15 Oktober 2003 dan menandatangani kontrak baru selama empat tahun.
  8. Setelah pengangkatannya sebagai kapten, Gerrard mengatakan: "Aku pernah menonton John Barnes dengan ban kapten dan bermimpi bahwa suatu hari saya akan menjadi kapten tim yang saya cintai. "
  9. Pada 8 Desember 2004 Gerrard mencetak gol yang menakjubkan dan membangkitkan Liverpool dari ketinggalan untuk mengalahkan Olympiakos dan lolos dari Grup Liga Champions. Lihat gol Gerrard yang fantastis. Gerrard mengatakan kepada The Times pada tahun 2009 bahwa goal ini adalah goalnya yang "paling penting".
  10. Pada tahun 2005, Gerrard ditempatkan di posisi ketiga dalam Ballon d'Or.
  11. Dia menjadi MOTM di Liga Champions 2005 dan kemudian menerima UEFA Club Player of the Year
  12. Pada bulan April 2006, Gerrard menjadi pemain Liverpool pertama sejak John Barnes pada tahun 1988 yg terpilih menjadi PFA Player of the Year.
  13. Ketika Gerrard mencetak gol dua kali dalam Final Piala FA 2006 melawan West Ham, ia menjadi satu-satunya pemain yang mencetak gol di final Piala FA, Piala Liga, Piala UEFA dan Liga Champions.
  14. Gerrard mencetak gol melawan Arsenal pada tanggal 28 Oktober 2007 yang pada laga tersebut adalah laga yang ke 400 untuk Liverpool.
  15. Dia membuat penampilan ke-100 di Kompetisi Eropa untuk Liverpool pada 10 Maret 2009 melawan Real Madrid dan mencetak gol dua kali dalam kemenangan 4-0.
  16. Tiga hari kemudian, Zinedine Zidane memuji Gerrard sebagai "Pemain terbaik Dunia". Dia berkata: "Apakah dia yang terbaik di dunia? Dia mungkin tidak mendapatkan perhatian sebanyak Lionel Messi dan Ronaldo tetapi ya, saya pikir dia mungkin saja yang terbaik."
  17. Pada tanggal 22 Maret 2009, Gerrard mencetak hattrick pertamanya di EPL saat Liverpool mengalahkan Aston Villa 5-0. Lihat Gerrad's The First Hattrick
  18. Pada tahun 2010, The Guardian menobatkan Gerrard sebagai salah satu pemain untuk tim World XI versi mereka. 
  19. Gerrard berada di posisi kedua setelah Kenny Dalglish dalam 100 Player who shake the Kop.
  20. Dia membuat debut internasionalnya untuk England pada 31 Mei 2000 vs Ukraina.
  21. Dan Gerrard mencetak gol pertama internasionalnya pada saat kemenangan 5-1 atas Jerman di Kualifikasi Piala Dunia 2002 pada bulan September 2001. Lihat The First International Goal Gerrard
  22. Dia adalah pencetak gol terbanyak Inggris pada Piala Dunia 2006 mencetak dua gol dalam babak penyisihan grup, melawan Trinidad & Tobago dan Swedia.
  23. Dan ketika Inggris pergi ke Piala Dunia 2010, Gerrard adalah pemain paling berpengalaman dalam skuad dengan 80 caps.
  24. Ia telah dinominasikan untuk kedua penghargaan Ballon d'Or dan FIFA Pemain Terbaik Dunia sebanyak 6 kali sepanjang karirnya.
  25. Gerrard telah membuat 564 penampilan untuk Liverpool, kesepuluh tertinggi dalam sejarah klub. Alan Hansen sebanyak 620 dan Kenny Dalglish sebanyak 515.
  26. Dan ia telah mencetak 144 gol. Ini menempatkan dia pada urutan ke 9 di daftar pencetak goal Liverpool sepanjang masa, tujuh gol dibelakang Harry Chambers.
  27. Pada tanggal 13 Mei 2009, Gerrard dinobatkan sebagai pemain terbaik tahun 2009 oleh Footballer Writers Association dan menjadi pemain Liverpool yang pertama memenangkan penghargaan tersebut dalam kurun waktu 19 tahun.
  28. Setelah mencetak gol di Liga Champions saat melawan Olympique de Marseille pada 11 Desember, ia menjadi Pemain Liverpool pertama sejak John Aldridge pada tahun 1989 untuk mencetak gol di tujuh pertandingan  berturut-turut di semua kompetisi.
  29. Anggota Dewan dari Knowsley memilih Gerrard sebagai a Freeman of the Borough pada 13 Desember 2007, dan dua minggu kemudian, dia membuat Member Order of the British Emperor yang dipimpin oleh Ratu dalam acara The Queen New Year Honours List, untuk pelayanannya dalam bidang olahraga.
  30. Dia menerima kehormatan beasiswa dari John Moores University Liverpool pada 26 Juli 2008 karena kontribusinya pada olahraga.


»»  lanjut bacanya....

07 September 2012

Melihat Melwood Dari Dekat


Laiknya pekerja, para pemain Liverpool punya tempat yang sehari-hari dapat disebut "kantor". Tempat itu bernama Melwood. Seperti apa? Melwood memang "kantor" para pemain untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti berlatih, berdiskusi dengan manajer, makan siang atau apa saja yang biasa dilakukan oleh seorang pesepakbola. Seperti halnya pekerja kantoran, para pemain dari pagi hingga sore berada di tempat ini. Shankly sendiri bukanlah seorang manager terkenal pada waktu itu dan sebagian fans dan media meragukan kemampuannya. Shankly justru memulai dengan merevolusi skuad Liverpool besar-besaran, tidak kurang dari 24 pemain dia lepas dan merekrut pemain-pemain baru pilihannya. dan menggunakan sebuah ruangan di stadion Anfield untuk menggelar rapat kepelatihan.Yang tidak pernah di lakukan pelatih2 sebelumnya.


Ruangan ini di namakan ‘The Boot Room’ tempat para pemain menyimpan sepatunya dan diurutkan berdasarkan nomor punggung. Juga ada lemari kecil tempat menaruh nutrisi serta vitamin para pemain, yang ditempatkan juga berdasarkan nomor punggung mereka. Di ruangan inilah Bill Shankly dan anggota ‘Boot Room’ lainnya seperti Bob Paisley, Joe Fagan dan Reuben Bennett mulai membangun kekuatan Liverpool FC . Dengan stadion yang memprihatinkan, fasilitas latihan yang kurang memadai, dan staf pemain yang buruk. Satu-satunya yang mempunyai kualitas adalah backroom staff Liverpool.semuanya di perbaiki secara menyeluruh. 

 
Lapangan untuk latihan di Melwood juga dulu dalam keadaan yang memprihatinkan, rumputnya tumbuh terlalu tinggi, dan hanya mempunyai satu keran air. Shankly kemudian merubahnya menjadi sebuah kekuatan, dengan mengundang para pemain bukannya ke Anfield tetapi ke Melwood (sejak saat ini Melwood jadi tempat latihan Liverpool sampai sekarang). Hal ini menciptakan atmosfer persahabatan dalam tim. Di Melwood, Shankly memperkenalkan latihan kebugaran termasuk program diet, dan latihan skill, menggunakan gawang buatan yang dilukis pada sebuah tembok, kemudian dibagi menjadi delapan sisi yang kemudian dia meminta pemainnya untuk menembak tepat pada sasaran.
 
Untuk latihan bermain, Shankly memperkenalkan permainan lima-sisi yang menegaskan sepak bola berfikirnya – mengumpan dan bergerak, bermain simpel, sebuah keyakinan yang diperoleh dari pertandingan harian yang dilakukan oleh para penambang dari Glenbuck. Setelah latihan, tim akan kembali ke Anfield bersama untuk mandi, berganti pakaian, dan menyantap hidangan komunal. Dengan cara ini Shankly dapat memastikan bahwa para pemainnya telah mendinginkan badan (warm down) secara benar dan menjaga para pemain bebas dari cedera. Melwood pun menyediakan ruang khusus untuk para awak media yang memang datang untuk menghadiri jumpa pers menjelang pertandingan atau khusus, meminta waktu untuk melakukan wawancara dengan para pemain atau manajer."Setiap harinya kami mendapat request khusus dari seluruh media di dunia ini untuk melakukan interview. Jadwal pemain dan pelatih memang sangat padat,"Senior Partnership Manager Liverpool FC, Kevin O'Riordan


Kenapa Melwood harus berada di tengah pemukiman padat penduduk yang notabene bisa mengganggu konsentrasi pemain suatu saat ketika sedang berlatih? "Ini adalah permintaan (Bill) Shankly sejak tahun 1970-an, saat kompleks latihan ini didirikan di tengah perumahan warga untuk menjaga serta membangun komunikasi dengan para fans. Kami berbeda dengan klub-klub seperti Manchester United, Manchester City, Chelsea, atau Arsenal yang punya pusat latihan lebih besar karena terletak di pinggir kota," tukas Kevin.

Keunikan lainnya adalah jika kebanyakan klub besar menyatukan pusat latihan tim senior dengan akademi yunior, Liverpool menempatkan sekolah sepakbola mereka di Kirkby, sebuah tempat di pinggiran Liverpool yang bisa ditempuh dengan waktu 30 menit dari Melwood. Terkadang fans ada yang nekat mendatangi Melwood untuk bertemu para idolanya, dan ada banyak cara yang mereka lakukan supaya bisa melihat dari dekat para pemainnya. Misalnya, mengintip lewat tembok di sekitar lapangan latihan dan mengabadikan gambar para pemain lewat lensa kamera. Liverpool boleh jadi contoh sebuah klub besar yang dekat dengan suporternya, baik "ruh" maupun fisiknya.


»»  lanjut bacanya....